Surga Para Koruptor

Juli 2008
Kesaksian Ki Shadri

Ketika teman saya mengatakan bahwa Indonesia termasuk ke dalam sepuluh besar di antara Negara-negara terkorup di dunia,  saya gak percaya !. Kok, gak percaya ?. Ya iyyya laaah…. kalau juara pertama, baru saya percaya.

Institusi mana di negeri ini yang tidak terkena kasus korupsi ?. Lembaga Negara, baik lembaga tinggi maupun lembaga yang kurang tinggi, baik pemerintah maupun pengontrol pemerintah. Dari mulai tingkat pusat, daerah tingkat 1, daerah tingkat 2 dan seterusnya. Mungkin cuma daerah tingkat 5 dan 6 saja (RW dan RT maksudnya…) yang tanpa korupsi, ini pun mungkin hanya karena tidak ada kesempatan, kalau ada peluang mah masa kita gak mau melestarikan "tradisi" bangsa.

Tampak jelas persekongkolan di antara pejabat pemerintah, pengusaha, wakil rakyat, penegak hukum dan yang lainnya. Uang berputar di antara mereka dengan jumlah yang tidak sedikit. Sehingga sulit agaknya jika Indonesia disebut tidak punya uang. Uang itu sebenarnya banyak, hanya saja peredarannya tidak secara merata dan tidak secara halal.

Anehnya, di negeri ini sering ditemukan kasus korupsi, tetapi sangat jarang ditemukan koruptornya. Mungkinkah uang-uang itu diambil jin, tuyul atau makhluk sejenis jurig lainnya? Tapi masa sih jurig butuh duit? Kalau manusia yang seperti jurig mungkin butuh.

Alhamdu lillah, saya mah tidak ditakdirkan menjadi pejabat ataupun wakil rakyat, sehingga saya tidak melakukan korupsi. Bukankah kebanyakan penyebab orang-orang yang tidak melakukan korupsi adalah hanya karena tidak adanya kesempatan. Jika ada kesempatan, orang yang tadinya anti korupsi juga bisa terseret menjadi koruptor. Bagaimana bisa berenang melawan arus sungai yang sangat deras kecuali dengan memiliki kekuatan yang sangat hebat. Bukankah korupsi itu sudah menjadi tradisi ? Sehingga orang yang tidak korupsi di sebuah lingkungan yang memiliki peluang korupsi adalah orang yang  paling aneh dan dianggap sudah keluar dari "jama’ah"-nya. Nah.. lo…

Jika ada jajak pendapat tentang siapa yang harus diberi hukuman paling berat diantara bandar narkoba, pembunuh, pemerkosa, pelaku terror bom atau koruptor ? Saya akan memilih koruptor. Karena jika bandar narkoba mengakibatkan lahirnya generasi yang lemot (=lemah otak) dan lahirnya berbagai tindakan kriminalitas, maka korupsi pun mengakibatkan dampak tersebut, karena dana yang dicuri oleh para koruptor itu telah mengurangi kemampuan Negara untuk menyelenggarakan pendidikan dan hal-hal lainnya bagi rakyat sehingga mendorong kriminalitas. Adapun pembunuh, pemerkosa dan pelaku terror bom beroperasi kepada sebagian orang, sehingga dampaknya pun hanya bagi sebagian orang, tetapi korupsi berdampak menyengsarakan seluruh rakyat.

Wah, kalau pendapat saya itu benar, apa dong hukuman bagi para koruptor? Sedangkan pelaku terror bom, pembunuhan dan pengedar narkoba saja sekarang sudah mulai dihukum mati. Jawaban saya untuk pertanyaan itu, “belum ada hukuman yang tepat di negeri ini bagi para koruptor”. Mari, kita sebagai rakyat menyepakati bersama hukuman yang tepat dan berat bagi mereka. Jika rakyat sudah sepakat, maka akan mudah untuk mengusulkannya kepada pemerintah. Kita usulkan melalui wakil rakyat.

Tapi, sulit juga ya, wakil rakyat mungkin tidak akan mau mengusulkannya. Pasti mereka takut “senjata makan tuan”. Emmh… bagaimana kalau kita usulkan langsung saja kepada pemerintah?. Hehe…, Sulit juga bro, sami mawon!


Sudah lah ente jangan banyak mimpi. Karena ini surga mereka, Surga para koruptor. Negara mereka, bukan Negara ente. Kita mah masih untung bisa diperbolehkan hidup disini. Coba kalau sudah datang yang lebih sial lagi, mungkin kita akan ditagih bayaran kontrakan karena sudah ikut numpang tinggal disini.

Bagi anda yang bukan koruptor dan merasa sangat kesal terhadap koruptor yang seringkali selamat dari hukuman di negeri ini bahkan bisa menikmati sisa hidupnya di luar maupun di dalam negeri, saya punya informasi yang mungkin bisa mengobati kekesalan anda. Para koruptor yakni orang yang tidak peduli dengan ekonomi rakyat kecil adalah termasuk kelompok orang yang mendustakan agama. Mereka yang melecehkan anak yatim dan tidak mendorong pertumbuhan ekonomi orang miskin, sekalipun mengaku beragama tetapi tindakan mereka itu menunjukkan kalau mereka tidak mempercayai adanya Tuhan dan kehidupan akhirat. Maka sekalipun mereka melaksanakan shalat, zakat, bahkan haji setahun dua kali misalnya, mereka tetap akan mendapat kecelakaan karena mereka telah melupakan esensi shalat dan ibadah-ibadah lainnya itu. Ketahuilah shalat dan ibadah-ibadah lainnya yang mereka lakukan itu hanyalah kamoplase untuk mengelabui orang lain alias riya, bukan merupakan jiwa mereka yang sesungguhnya.

Tidak percaya? Coba lihat Surat Al Ma’uun (107). Kalau dengan yang ini, masa gak percaya? ;-)

Semoga Allah segera menjadikan negeri ini sebagai neraka. Neraka bagi para koruptor.

Kesaksian Ki Shadri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar